Banjir dan Hilangnya Rawa di Semenanjung Muria

Ditulis oleh Ainur Ridho
Pemenang Menulis – kelas komunikasi sains #2

Di sisi selatan Semenanjung Muria, banjir seperti arisan tahunan, bergilir bergantian menyambangi desa demi desa. Semenanjung Muria di pesisir utara Pulau Jawa, menjadi wilayah 4 kota, Kabupaten Kudus, Pati, Demak, dan Jepara.

Sejak awal abad ke-21, banjir sudah melanda wilayah ini lebih dari 260 kali. Banjir kadangkala hanya berlangsung dalam hitungan jam, kadangkala belum surut hingga 3 minggu lamanya. Merendam ribuan hektar sawah dan ribuan rumah penduduk.

Berdasarkan data BPBD Kab. Kudus pada awal Februari 2021, banjir telah terjadi di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Kaliwungu, Jati, Undaan, dan Mejobo, semuanya adalah kecamatan paling selatan di Kabupaten Kudus. Sebanyak 11.043 orang terdampak banjir di Kudus dengan ketinggian air mencapai 75 sentimeter.

Sementara itu di Kabupaten Pati, banjir juga melanda 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Gabus, Jakenan, Juwana, Pati, Sukolilo, dan Kayen. Sebanyak 12.687 penduduk terdampak pada banjir besar di Kabupaten Pati bulan Februari 2021.

Faktor penyebab banjir di wilayah ini menurut Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Serang Lusi Juwana (BPSDA Seluna) yang pertama adalah peningkatan debit air permukaan, karena rusaknya area resapan hujan.

Debit air sungai Serang dan Juwana, dua sungai besar yang melintasi sisi selatan Muria, meningkat drastis akibat menampung air limpasan permukaan yang melimpah akibat curah hujan tinggi. Kondisi ini menyebabkan sungai kelebihan kapasitas dan meluapkan air ke area pemukiman dan persawahan.
Faktor selanjutnya, kekuatan fasilitas pengairan yang ada kurang memadai dan sebagian besar pada kondisi kritis. Tujuh Daerah Aliran Sungai di Semenanjung Muria berada dalam kondisi kritis, salah satunya adalah tanggul sungai yang mudah tererosi.

Tanggul jebol terbukti menjadi penyebab 3 peristiwa banjir pada tahun 2021 ini yaitu di Sungai Gelis, Sungai Piji dan Sungai Sengon. Kondisi kritis lain yaitu tingginya sedimentasi dan menyusutnya area dataran banjir pada badan sungai.

Bila ditilik lebih menyeluruh, kondisi geografis daerah langganan banjir inilah yang sebenarnya menjadi faktor utama. Topografi daerah ini berbentuk cekungan seperti mangkuk, yang diapit oleh Gunung Muria di utara dan Pegunungan Kendeng di selatan, menjadikannya tempat alami untuk air dari daerah lain berlabuh.

Pada masa Kerajaan Medang Kamulan abad ke-8 M, daerah ini adalah perairan Selat Muria, perairan ini cukup sibuk dilintasi kapal-kapal pedagang. Kemudian terus mengalami sedimentasi masif dan menjadi daerah rawa besar pada akhir masa Kesultanan Demak abad ke-15 M, membuat Pulau Muria bergabung dengan Pulau Jawa.

Pada akhir abad ke-19, wilayah ini sudah menjadi daratan yang dijadikan pemukiman serta persawahan, hanya menyisakan rawa luas di Sungai Juwana dan beberapa rawa kecil di Sungai Serang. Peta pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1902 masih menunjukkan keberadaan rawa besar mencapai seperlima luas Kabupaten Kudus sekarang.

Namun kini, rawa itu tak pernah tercatat sebagai tubuh air pada peta pemerintah Indonesia. Meskipun faktanya masih terdapat sisa-sisa rawa yang dapat dikenali dengan mudah.

Gambar (1) Peta kolonial Belanda Residentie Semarang. Gambar kiri 1914 menampilkan sebaran rawa kecil di perbatasan Kudus dan Demak, sedangkan gambar kanan 1902 menampilkan rawa besar di perbatasan Kudus dan Pati.

Gambar (2) Peta wilayah kerja BPSDA Seluna 2020. Tidak menampilkan keberadaan rawa sebagai tubuh perairan di wilayah Muria.

BPSDA Seluna hanya menampilkan daerah sebagai area rawan banjir pada peta potensi banjir. Menghilangnya rawa dari peta ini menunjukkan pemerintah tidak ada perhatian untuk memfungsikan rawa sebagai fasilitas alami penanganan bencana banjir.

Padahal rawa ini sejatinya masih disebut sebagai rawa karena masih tergenang air hampir sepanjang tahun. Kabupaten Kudus sekarang hanya memiliki 650 hektar luas rawa yang berada di Kecamatan Jekulo dan Mejobo.

Pemerintah memandang daerah rawa ini sebagai lahan tidur karena tidak memberi fungsi ekonomi. Pemerintah Kabupaten Kudus justru berencana membuat lahan rawa semakin menyempit dengan pembentukan lahan budidaya perikanan dan pertanian.

Disaat yang bersamaan, pemerintah juga kesulitan menangani masalah banjir tahunan yang juga menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

Fungsi rawa yang berperan untuk menampung air hujan, daerah resapan air, dan penyerapan karbon menjadi tidak ada gunanya karena luasnya yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan.

Alih fungsi lahan rawa semestinya menjadi perhatian khusus untuk mencari solusi permasalahan banjir yang tidak terbatas pada Semenanjung Muria saja, namun di wilayah lain yang memiliki rawa.

Pemerintah hendaknya mengkategorikan rawa ini sebagai tubuh air yang memiliki fungsi untuk menampung air selain waduk atau bendungan. Normalisasi dan konservasi lahan rawa sebagai kawasan cagar alam sebaiknya dilakukan untuk solusi jangka panjang banjir.

Masyarakat harus memahami fungsi asal lahan yang terlanjur ditempatinya, menyadari resiko bencana banjir yang mungkin tidak akan pernah hilang, akibat musnahnya rawa. Untuk sekarang, bersiap siaga saja mendapat arisan banjir yang mungkin datang tahun depan.

Entah berapa luas lagi lahan rawa yang ada di Indonesia berubah menjadi persawahan dan pemukiman, entah berapa kali banjir yang harus terjadi, sebelum kita sadar pentingnya rawa.

Daftar Pustaka:
https://dibi.bnpb.go.id
https://www.antaranews.com/berita/1989460/42-desa-di-kabupaten-pati-dilanda-banjir https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5399936/10-kelurahan-di-kudus-ini-sudah-tergenang-banjir selama-3-pekan
https://bencana-kesehatan.net/index.php/13-berita/berita/799-3-faktor-penyebab-banjir-di-kudus https://www.murianews.com/2020/03/03/183674/tujuh-daerah-aliran-sungai-di-muria-masuk-kategori kritis.html
https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/2012442
http://www.kudusnews.com/main/read/1/news/460/pemkab-tawarkan-rawa-rawa-kepada-investor http://sda.pu.go.id/balai/bbwspemalijuana/peta-wilayah-sungai

7403 3009 Hanif Sulaeboy

Leave a Reply

Start Typing