Sapa Redaksi Nawala Edisi Ketiga

Halo!

Kabar kami di balik lembar Nawala Kepak Sayap Tangguh, semoga pembaca juga selalu bisa jaga imun dengan hiburan paporit  di tengah badai pandemi yang semoga segera terlihat hilal usainya.

Setelah berganti kepemimpinan U-INSPIRE Indonesia (U), diskusi demi diskusi menyimpulkan: Nawala Titik Kumpul sebagai salah satu produk literasi U nampaknya perlu menjawab tantangan berbeda. Nawala edisi ketiga ini sedikit lain dengan edisi pendahulu, namun tetap memegang misi sama: membahasakan sains dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Judul edisi kali ini memanfaatkan jargon baliho yang sedang viral, namun kami interpretasikan dengan keadaan di lapangan yang kurang selaras dengan cita-cita nasional Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Kepak Sayap Tangguh atau dibaca Kepaksa Tangguh. Kok kepaksa? Dari beberapa cerita masyarakat yang Tim Redaksi dengar saat terlibat dalam respon darurat bencana, ada hal menarik yang bisa dipetik. Ternyata mereka lebih takut dengan ‘tangguh’ daripada bencana  itu sendiri. 

Wah, kok bisa?

Ternyata, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang terbukti mampu menyelamatkan nyawa dari kejadian bencana, dari hasil warisan turun-temurun. Tapi, intervensi lembaga berwenang yang menarasikan bencana terlalu text book dengan jargon ‘salam tangguh’ yang khas itu, memberikan efek berbeda. Tangguh menjadi hal yang terasa menakutkan atau membebani masyarakat di beberapa daerah. 

Nah, karena beban itu berat, kamu ga akan kuat. Jadi, Nawala berupaya menyajikan pengetahuan terkait kebencanaan dengan cara renyah, gurih, dan (semoga) padat nutrisi. Pendek kata, lahap Nawala yuk! Kasih tandas!  Oya, jangan lupa ratingnya ya, Kak!

Salam sayapng,

Tim Redaksi

150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing