Kekayaan Nadir

Ada istilah yang biasa dipakai dalam bidang astronomi untuk menyebutkan posisi atas dan bawah, yakni zenit dan nadir. Zenit adalah nama yang dipakai untuk menunjukkan posisi tegak lurus di atas bumi terhadap garis cakrawala. Sedangkan nadir menunjukkan sebaliknya, titik kaki yang mendekat ke bumi.

Soal bumi, detak, gerak, dan evolusinya telah mencapai usia 4.5 miliar tahun kini. Ia terbentuk dari ledakan dan lemparan benda angkasa yang kemudian memiliki inti magnetis yang berhimpun benda-benda angkasa yang lebih kecil dalam kesatuannya. Gumpalan tersebut dingin sekali saat itu, diselimuti es, sebab suhu di angkasa sana yang membuatnya demikian. Kemudian terjadilah proses alami bumi seperti gunung meletus, hujan, badai, salju yang mencair dan longsor, juga berbagai aktivitas bumi lainnya. Peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah sebuah kejadian alami dan bukan jadi soal siapa-siapa, waktu itu. 

Hingga suatu masa, bumi menjadi tempat yang nyaman bagi makhluk hidup bersel tunggal, kemudian bersel banyak untuk tumbuh dan meneruskan keturunan. 

Ketika masa tersebut datang, bumi tidak berubah dalam menunjukkan geliatnya. Kadang beberapa bagian di kulitnya bergetar, kadang ia memuntahkan sedikit isi perutnya, kadang ia mempertahankan genangan air, menggugurkan sebagian tanah, atau membuat tiupan angin dan air yang sebenarnya hanya bertujuan untuk mencapai keseimbangan kehidupannya. Alaminya, begitulah bumi kita.

Setelah melalui berbagai periode generasi dan peradaban yang miliaran tahun itu, pada satu ketika di tahun 2007, suatu komunitas yang menyebut dirinya Indonesia, membuat sebuah pemahaman bersama. Pemahaman soal kebencanaan. Mereka memaknai bencana sebagai suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat (UU 24/2007). Pada pemahaman tersebut, jejak hidup bumi disimak dari sudut pandang masyarakat, atau manusia, atau satu jenis spesies penghuni ribuan bongkahan kerak bumi bernama Indonesia. Manusia yang ‘diancam dan diganggu’ atas kejadian ini, pada sisi lain juga adalah pemain yang memiliki peran dominan dalam berbagai perubahan berbagai aspek kehidupan. Termasuk kehidupan miliaran spesies lain yang mendiami planet yang sama.

Karakter kebumian Indonesia yang khas bisa diibaratkan sebagai surga tropis yang mengandung rentetan ramalan kehancuran. Negara dengan julukan zamrud khatulistiwa ini, pada sisi koin yang lain memiliki tingkat kerentanan bencana tertinggi. Sifat geografis Indonesia yang menyumbang keindahan dan kekayaan abadi, memiliki wajah lain berupa curah hujan dan bentang bumi yang menyumbang kerentanan banjir pada lebih dari 60% wilayah. Selain itu, diberkati pula dengan cincin api pasifik yang mengitari sebagian besar wilayah negara. Cincin api pasifik yang merangkum jejak bumi untuk terbentuknya 127 pucuk gunung berapi dan aktivitas seismik aktif sebagai penyebab sederet bahaya lain seperti likuifaksi dan tsunami.

Jenis bahaya yang terakhir tersebut, turut mendongkrak peradaban manusia Indonesia untuk semakin mengenali wadah dan rona hidup bumi yang mereka huni. Tsunami Samudera Hindia 2004 yang berdampak besar pada kehidupan dan penghidupan masyarakat, menjadi salah satu pemicu tercetusnya momentum perintisan sebuah entitas baru. Entitas yang diharap kelak mampu membawa peradaban baru berupa ketangguhan manusia Indonesia menghadapi ancaman bencana. Entitas yang dibentuk untuk mampu mengalokasi berbagai formula pembelajaran, sumber daya, teknologi, dan keunikan manusia Indonesia dalam menghadapi bencana. Entitas itu bernama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Setelah 12 tahun berdiri, atau tahun 2019, BNPB berupaya mengakrabkan kembali relasi masyarakat Indonesia dengan karakteristik tanah airnya, karakter bumi tempat mereka huni. Caranya ialah, dengan mengumpulkan cerita dan jejak-jejak terkait kejadian bencana, yang terserak di berbagai belahan dunia. Salah satunya ialah bukti yang ditemukan BNPB saat mengunjungi arsip nasional Utrecht University, Museum Migratie, kediaman Prof. Herman Th. Verstappen, dan DELTARES, Belanda bahwa jejak ini tertinggal jauh di sana. Sedikitnya, tim mendapatkan tujuh literatur yakni Die Erdbeben des Indischen Archipels von 1858 bis 1877 (Arthur Wichmann), Die Erdbeben Des Indischen Archipels Bis Zum Jahre 1857 (Arthur Wichmann), Famine and Food Supply in Java 1830 – 1944 (W. R. Hugenholtz), Two Colonial Empires: Comparative Essays on The History of India and Indonesia in the 19th Century (Marthinus N), Amboina (Waerachtigh Verhael), Aard – En Zeebeving op Ceram (D.R.D.M. Verbeek), dan Ambon voor En Na De Ramp (Naamloze Vennootschap). Semua literatur tersebut memuat soal ragam bencana, dan kisah manusia Indonesia dalam menghadapi fenomena itu.

Pertanyaan yang muncul, bila yang terpental jauh di negeri seberang saja sekaya itu, apa tidak mungkin suatu candi, atau manuskrip, atau artefak yang berada di Indonesia juga bercerita tentang fenomena yang sama? 

Saya jadi ingat pepatah seorang legenda Indonesia: Soekarno, “Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah!” 

Peninggalan-peninggalan sejarah ini seperti warisan dari para leluhur. Warisan yang begitu berharga dan sarat ilmu ketangguhan manusia Indonesia. Manusia yang sintas, yang bertahan dari beragam dan berkali-kali gempuran kejadian bencana. Manusia yang kemudian sedikit di antaranya bercerita, membuat tanda, atau meninggalkan jejak untuk ditelusuri dan dijadikan pelajaran oleh anak-cucu mereka kelak. Agar mereka paham soal apa yang pernah menghantam negeri ini, supaya mereka lebih berdaya di masa yang lain.

Kesadaran-kesadaran ini haram diabaikan. Babak selanjutnya, dibentuklah misi Literasi Sejarah Kebencanaan untuk memungut bongkah-bongkah warisan tadi, dan menerjemahkannya untuk bisa dimengerti.

Jangan lupa, kita juga punya tantangan lain. Sejarah terekam dalam jejak arsip, manuskrip, artefak, dan berbagai wujud tinggalan lainnya melalui format yang begitu unik, berbeda antara satu dengan lainnya. Perlu keahlian dan keterampilan khusus untuk membaca, memahami, dan menyampaikan kembali pesan yang tersimpan. 

Untuk menjawab tantangan ini, BNPB tak mungkin kerja sendiri. Ia menggandeng Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), dan berbagai entitas lainnya untuk bekerja bersama, termasuk U-Inspire Indonesia.

Kabar baiknya, misi ini telah menampakkan satu kemajuan nyata. Berupa suatu wadah yang menampung warisan yang dapat langsung dimanfaatkan, sebab telah diterjemahkan agar jadi lebih mudah dipahami. Wadah ini bertajuk Portal Literasi Kebencanaan, yang dapat diakses melalui tautan https://sejarah.dibi.bnpb.go.id/.

Wadah ini hanya akan jadi sia-sia kalau tak terus diisi, digaungkan keberadaannya, dan terutama diambil pelajarannya oleh masyarakat. Terlebih oleh pemegang wewenang, pemangku kepentingan, atau singkatnya,  pejabat kita. 

Untuk memperkuat misi mengisi, menggaungkan, dan memanfaatkan warisan sejarah kebencanaan, perlu dukungan para pembelajar lintas disiplin ilmu, keahlian, dan keterampilan terkait. Babak barunya, para pembelajar punya kesempatan terlibat dalam Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan melalui Call For Abstract, lomba menulis artikel, poster ilmiah, dan story map .

Seminar yang berpesan: “Menelusuri Jejak, Meneguhkan Pijak. Literasi Sejarah Kebencanaan sebagai Warisan Ketangguhan Masa Lalu, Kini, dan Nanti” dapat disimak info selanjutnya melalui  http://sejarah.dibi.bnpb.go.id/seminar

Soal frasa Warisan Ketangguhan, mungkin boleh dibilang mereka yang memiliki literasi kebencanaan baik lah yang mewarisi kekayaan berupa ketangguhan menghadapi bencana para leluhur kita dulu. Kekayaan yang akan membangun peradaban baru Indonesia yang lebih mengerti soal tangguh bencana. Kekayaan yang akan memudahkan mereka mengenal sifat alaminya bumi, memahami keinginan bumi soal keseimbangan alaminya.

Kekayaan yang nadir, yang mendekat ke bumi.

Ditulis oleh Tinitis Rinowati

150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing