Memahami New and Emerging Risks dan Future Foresights sebagai bentuk Antisipasi dalam Manajemen Risiko Bencana

Memahami Makna akan Ancaman dan New and Emerging Risks

Bencana yang selama ini kita ketahui dan alami lebih banyak terfokus pada faktor alam. Akan tetapi terdapat juga beberapa bentuk bencana lainnya, yang disebabkan oleh faktor manusia dan faktor risiko lainnya. Faktor-faktor tersebut, termasuk juga: perubahan iklim, kerusakan lingkungan, pembangunan ekonomi global, kemiskinan dan ketidaksetaraan, pembangunan perkotaan yang tidak terencana dan tertangani dengan baik, dan tata pemerintahan yang lemah. Berdasarkan data yang dirilis oleh BNPB, tiga jenis bencana alam yang mendominasi pada Tahun 2021, adalah Banjir, Puting Beliung, dan Tanah Longsor, dimana jumlah kejadian tersebut pada Tahun 2020 mengalami peningkatan secara signifikan dibandingkan pada tahun sebelumnya, 2019

Grafik 1 Data Kejadian Bencana Banjir, Puting Beliung, dan Tanah Longsor di Indonesia 2019-2021

New and emerging risks dapat dimaknai sebagai berbagai risiko yang muncul di berbagai kondisi baru yang tidak dikenali. Berbagai risiko ini dapat berkembang secara lambat maupun cepat. Berbagai risiko ini dapat dikaji untuk menghasilkan suatu skenario yang dapat digunakan dalam upaya penanganannya di masa yang akan datang. Salah satu contoh yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam pengembangan skenario ini, adalah Global Risk Report 2021 yang disampaikan pada event World Economic Forum. Laporan tersebut memaparkan hasil survei global yang dilakukan pada Tahun 2020, dalam menjaring pendapat responden dalam mengidentifikasikan berbagai ancaman dari skala kecil, sedang, dan menengah yang mungkin akan dihadapi oleh masyarakat global dalam kurun waktu sekarang ini hingga 10 tahun kedepan.

Hasil survei yang dilakukan oleh Global Risk Horizon tersebut menunjukkan bahwa bencana alam, bukanlah  merupakan ancaman utama, sebagaimana tersirat pada grafik dibawah ini.

Grafik 3 Hasil Survei Global Risk Horizon
“Persepsi Publik Terhadap Peluang Kejadian dan Dampak Risiko”

Pada survei yang sama, responden juga diminta untuk meranking tiga risiko terbesar secara berurutan yang memiliki peluang kejadian untuk rentang waktu 10 tahun kedepan. 

Grafik 4 Ranking risiko Global dalam Kurun Waktu 10 Tahun

Survei tersebut menggunakan lima kategori risiko sebagai indikator, yakni: ekonomi, lingkungan hidup, geospatial, sosial, dan teknologi. Berdasarkan kelima sektor ini, responden diminta untuk memberikan skala penilaian 1 hingga 5 untuk menilai potensi risiko berdasarkan peluang kejadian dan dampak yang paling merusak.  Hasil survei menunjukkan peluang terbesar terjadinya risiko secara global, yakni: 1) cuaca ekstrem, 2) kegagalan aksi iklim, 3) kerusakan lingkungan hidup manusia, 4) penyakit menular, 5) kehilangan keanekaragaman hayati, 6) konsentrasi kekuatan digital, dan 7) kesenjangan digital. Selain itu, responden publik juga berpendapat bahwa risiko terbesar yang disebabkan oleh dampak dari kategori indikator tersebut, meliputi: 1) penyakit menular, 2) kegagalan aksi iklim, 3) senjata pemusnah massal, 4) kehilangan keanekaragaman hayati, 5) krisis sumber daya alam, 6) kerusakan lingkungan hidup manusia, dan 7) krisis penghidupan masyarakat.

Future Foresight Strategy sebagai bentuk Antisipasi dalam New and Emerging Risks

Pemahaman akan peristiwa bencana dan upaya penanggulangannya, tentunya terikat erat dengan pengetahuan dan kesadaran pemerintah dan masyarakat akan faktor risiko. Risiko dapat dimaknai sebagai potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Untuk dapat memahami akan New and Emerging Risks atau risiko Global sebagaimana dijabarkan dalam hasil survei Global Risk Horizon, maka dibutuhkan suatu pendekatan yang dikenal dengan istilah Foresight atau pandangan ke masa depan. 

Foresight mengacu pada berbagai proses antisipasi untuk mengidentifikasikan peluang dan ancaman yang berpeluang muncul di kurun waktu jangka menengah dan panjang di masa yang akan datang.  Foresight juga merupakan cara pandang yang mendorong inovasi strategi evaluasi, dan perwujudan proaktif dalam membentuk masa depan. Suatu sistem Foresight yang efektif haruslah dapat mewakili suatu penyelarasan informasi dan proses manajemen yang mencakup: 1) pengumpulan informasi, 2) interpretasi data dan formulasi berbagai versi masa depan, dan 3) pengembangan opsi strategi untuk aksi. 

Menurut UNDP, sejarah akan Foresight berawal dari strategi dan teknologi militer yang digunakan oleh unit penelitian militer Amerika Serikat, seperti misalnya RAND (Research and Development) Corporation pada tahun 1940 dan 1950. Ide-ide Foresight yang dikembangkan pada masa tersebut berawal dari pengelolaan pengetahuan. Pendekatan Foresight dengan berbasis pengetahuan ini sebagian besar dikembangkan dan diujicobakan oleh praktisi dari berbagai perusahaan, seperti misalnya Royal Dutch Shell’s Group melalui pelatihan perencanaan skenario pada akhir Tahun 1960an. Foresight merupakan bagian dari Futures Thinking atau berbagai pendekatan mengenai masa depan dan mengeksplorasi factor-faktor yang dapat menentukan karakteristik, kejadian, dan perilaku di masa depan.

Berbicara mengenai penerapan akan Foresight ini sendiri, beberapa negara lainnya seperti Singapura dan Inggris, mendirikan dan mengembangkan lembaga tersendiri yang secara khusus mengembangkan strategi Foresight untuk masing-masing negara bersangkutan. Singapura memulai perencanaan Foresight di era 1980an, melalui Kementerian Pertahanannya dan pada Tahun 2009 berdirinya Centre for Strategic Futures (CSF) yang kemudian menjadi bagian dari Kelompok Strategi di Kantor Perdana Menteri pada tanggal 1 July 2015. Sedangkan Inggris mendirikan Government Office for Sciences (GOS) untuk memberikan masukan-masukan bagi Perdana Menteri dan anggota Kabinet dalam memastikan kebijakan dan keputusan yang dihasilkan oleh pemerintah haruslah berdasarkan bukti ilmiah dan strategi jangka panjang.

Bagaimanakah dengan Indonesia sendiri? dan upayanya dalam mengaitkan strategi Foresight ini dalam upaya manajemen risiko bencana. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi pada tahun 2017, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Perkembangan Iptek menyusun kegiatan Foresight di bidang riset marine science yang selanjutnya disebut sebagai Corporate Foresight. Sedangkan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) mengembangkan Kajian Teknologi Foresight untuk Kebencanaan berlatar belakang minimnya pengetahuan tentang teknologi-teknologi yang layak dikembangkan di masa yang akan datang. Kajian ini merekomendasikan kebutuhan akan riset-riset yang dapat membantu proses-proses kesiapan menghadapi bencana dalam rentang waktu 10 sampai 25 tahun ke depan. Dalam kajian tersebut, terdapat empat jenis bencana yang diprediksi perlu menjadi perhatian utama untuk 10-25 tahun ke depan, yaitu: 1) bencana hidrometeorologi, yang meliputi: banjir, longsor, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan gambut; 2) bencana geologi, yang meliputi: gempa bumi akibat gunung berapi/lempeng bumi, tsunami, dan liquifikasi; 3) bencana lingkungan, yang meliputi: polusi di perairan laut maupun darat, degradasi lahan pertanian, kehilangan sumber daya hutan; serta 4) bencana gagal teknologi yang meliputi kebocoran reaktor nuklir.

Kajian Teknologi Foresight untuk Kebencanaan yang dikembangkan oleh BPPT juga dapat dijadikan sebagai salah satu contoh penerapan Foresight secara koordinatif. Kajian tersebut dilakukan dengan pelibatan berbagai pakar kebencanaan dari kementerian/lembaga terkait. Metode yang digunakan melalui Delphi, perencanaan skenario, dan teknologi roadmapping bertujuan untuk mendapatkan konsensus agenda riset kebencanaan nasional tahun 2035 dan 2045, serta mengumpulkan pendapat dari pakar ahli tersebut terkait dengan aspek mitigasi, adaptasi, riset dasar, dan rekayasa teknologi untuk penanganan bencana geologi, hidrometeorologi, kegagalan teknologi, dan lingkungan.

Penerapan Foresight Strategy dalam Manajemen risiko Bencana di Masa Depan

Bagaimanakah kompleksitas pemahaman akan Foresight dan ramalan akan emerging risks ini dapat diterapkan secara praktis dalam manajemen risiko bencana?. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Professor Rajib Shaw dan Dr Ranit Chatterjee, terdapat 10 prinsip yang perlu diterapkan dalam membangun kesiapsiagaan risiko di masa depan. Berbagai prinsip ini sebagaimana digambarkan dalam grafik dibawah ini.

Grafik 5
10 Langkah dan Pembelajaran dalam Mengintegrasikan Ancaman Biologis ke dalam Pengurangan risiko Bencana

10 prinsip tersebut diatas menjelaskan aspek kunci dalam memahami ancaman biologis, yakni:

  • Kajian Risiko – melalui surveilans terintegrasi dan deteksi dini, serta identifikasi kluster atau hotspot;
  • Perencanaan risiko – dukungan berbasis multi disiplin ilmiah, dan perencanaan skenario terburuk;
  • Perencanaan Pemulihan – dengan kolaborasi regional, dan;
  • Penggunaan teknologi dan partisipasi pemangku kepentingan – dalam penanganan informasi-informasi palsu dan infodemik, melalui pembagian informasi

Selain empat aspek diatas, Komunikasi Risiko juga merupakan elemen terpenting dalam manajemen risiko bencana, dikarenakan elemen ini membangun persepsi masyarakat akan risiko dan mempengaruhi tindakan mereka dalam membangun kesiapsiagaan dan respon akan bencana. Komunikasi Risiko ini perlu juga disertai dengan peramalan multi ancaman dan sistem peringatan dini berbasis partisipatif, berdasarkan kebutuhan penggunanya, dan dapat memperluas jangkauan informasi akan peringatan dini bencana. Pendekatan serupa ini dapat juga diterapkan dalam upaya manajemen risiko bencana, diluar ancaman biologis.

Peran Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan risiko Bencana (FPTPRB), Platform Bencana maupun Forum Bencana di nasional dan daerah, serta program lokal seperti Desa Tangguh Bencana (DESTANA) melalui kajian-kajian risiko bencananya secara langsung telah menerapkan Foresight dalam perencanaan dan program kerja masing-masing. Akan tetapi, perlu dikembangkan secara khusus Strategi Foresight kebencanaan secara menyeluruh dengan pelibatan berbagai pihak dari tingkat provinsi hingga lokal, termasuk juga kelompok masyarakat adat, dan kelompok rentan. Membangun respon masyarakat agar lebih waspada dan siaga terhadap berbagai risiko yang akan mengancam keberlangsungan kehidupan di masa depan, haruslah lebih digalakkan kembali. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah dengan pengembangan berbagai skenario perencanaan masa depan.

United Nations Federal Emergency Management Agency atau lembaga penanggulangan bencana alam di Amerika Serikat,yang biasa dikenal sebagai FEMA meluncurkan Strategic Initiative Foresight di tahun 2010. Rencana Strategi ini mencakup skenario perencanaan dalam mendorong keterlibatan pemerintah dan masyarakat dalam Foresight, serta mendukung berbagai langkah inovasi dan inisiatif dalam membangun ketahanan akan bencana di masa depan.   Hal serupa juga dilakukan oleh Pemerintah Inggris, salah satunya adalah melalui kertas kebijakan Future of Cities: Foresight for Cities yang menggambarkan memaparkan berbagai metode Foresight dan kelebihannya bagi pemerintah.

Pengembangan Strategi Foresight dengan berbasis pada emerging risks, haruslah juga mencakup bentuk ancaman lainnya, selain alam. Ancaman yang bersifat recurrence atau terjadi secara berulang, yang dapat berdampak secara lintas negara, dan juga memiliki sejarah kejadian dengan dampak signifikan di masa lalu, seperti: kegagalan teknologi, ancaman nuklir, benturan asteroid, ledakan dari bahan kimia dan radiologi, dan sebagainya, perlu juga ditelaah dan disusun dalam skenario tersendiri. Hal ini dimaksudkan untuk membangun kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat secara menyeluruh, dan  mengidentifikasikan berbagai dampak, serta memetakan sumber daya yang dibutuhkan dalam langkah pencegahan dan penanganannya di masa depan.

Artikel Memahami New and Emerging Risks dan Future Foresights sebagai bentuk Antisipasi dalam Manajemen Risiko Bencana
ditulis oleh Yuniarti Wahyuningtyas
150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing