Membangun Hunian berbasis Mitigasi Bencana. Why Not?

Peta Tua Palu - Petobo Sumber: Kompasiana.com

Gimana sih rumah ideal menurutmu? Bertingkat dua dengan gaya mediterania atau hanya berlantai satu dengan ruang yang luas dan penuh ornamen? Berbicara tentang hunian tentu tak lepas dari selera dan status si pemilik tempat tinggal.   Tapi tulisan ini bukan ngebahas tentang hitung-hitungan bangun rumah atau ngulik bahan bangunan yang laik pakai,  apalagi sisipan pesan sponsor perusahaan properti ternama.

Manusia memiliki insting untuk menghuni rumah yang laik, nyaman, dan “aman” untuk dihuni. Mereka membangun hunian berdasarkan pengalaman yang terbangun karena faktor kejadian atau sejarah di masa silam. Sejatinya rumah dibangun berdasarkan alasan sederhana, yaitu tempat beristirahat dan berlindung. Sejak zaman praaksara atau purba, manusia memilih lokasi pemukiman dan membangun tempat tinggal dengan melihat sejauh mana keuntungan yang didapat, seperti dukungan sumber makanan, sumber air yang memengaruhi kondisi tanah, dan tempat berteduh.

Mengikuti masa peradaban, desain atau konsep hunian berubah seiring perkembangan kebudayaan manusia. Hunian tidak lagi dipandang sebagai struktur bangunan yang kokoh dan bernilai estetika belaka, namun juga diharapkan mampu mengantisipasi terjadinya bencana, paling tidak meminimalisir risiko bencana. Bangunan dirancang dengan sentuhan seni tanpa menghilangkan unsur ilmu bangunan menjadi definisi arsitektur secara sederhana. 

Ada 2 (dua) pemahaman arsitektur secara garis besar, yaitu tradisional dan modern. Arsitektur tradisional menjalankan konsep hunian turun-temurun bagi penghuninya. Sesuai dengan namanya, tradisi, segala nilai estetik, dan formasi pada bangunan dijalankan secara turun-temurun. Berbeda dengan tradisional, arsitektur modern justru bebas “berkembang” dan mengikuti perkembangan zaman. Konsep dan desainnya terkadang tidak biasa dan terkesan “liar”. sebagai contoh hasil garapan   yang unik itu.

Dalam perjalanannya, frekuensi tinggi kejadian bencana alam dalam beberapa dasawarsa terakhir “memaksa” para arsitek untuk memikirkan konsep pemukiman yang ramah bencana. Arsitektur hijau dipilih sebagai gerakan untuk mengkampanyekan “kembali ke alam”. Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) dibentuk berdasarkan kesepakatan beberapa organisasi yang bergerak di bidang infrastruktur, lingkungan, dan keuangan yang tergabung dalam US Green Building Council (USGBC). ; 1) bijak dalam penggunaan energi dan air, 2) daur ulang material alami, 3) strategi berkelanjutan dalam membentuk masyarakat yang sadar akan dampak perubahan iklim, dan 4) meminimalkan emisi karbon.

Dalam perkembangan ilmu arsitektur, arsitektur vernakular mendapat perhatian khusus dalam ranah membangun pemukiman yang berkelanjutan. Arsitektur “jenis” ini lahir dan berkembang di tengah masyarakat akibat praktik coba-coba dalam merumuskan hunian yang layak dan aman untuk ditempati. Material yang digunakan bersumber dari produk lokal yang mudah didapatkan dan digunakan. Meskipun identik dengan arsitektur tradisional, antara keduanya terdapat perbedaan gaya. Pada hakikatnya, vernakular merupakan turunan dari arsitektur tradisional yang  bersifat kontekstual sesuai zaman. Istilah vernakular diperkenalkan pertama kali pada tahun 1964 oleh Bernard Rudofsky pada saat ekshibisi dunia arsitek di Amerika Serikat. Kegiatan yang bertema ”Architecture without Architects” itu berlangsung di Museum of Modern Art (MoMA).

Di dalam Nusantara kita yang beragam budaya, praktik bangunan vernakular telah berlangsung lama dengan penerapan mitigasi bencana di dalamnya. Rumah panggung dibangun untuk mengantisipasi terjadinya banjir, gempa dan tsunami. Bahkan Rumôh tradisional Aceh, desain atapnya diyakini mampu mengatasi bencana kebakaran. Rumah adat tanpa tiang sangga pun, di mana struktur bangunan dibangun langsung di atas tanah, dapat meredam guncangan dengan stabil, seperti Rumah Joglo. Rumah adat yang berkonsep pengurangan risiko bencana di antaranya dapat dilihat pada gambar berikut.

 

Keberadaan rumah tradisional nusantara sampai saat ini masih ditemukan hampir di setiap provinsi. Eksistensi rumah tradisional patut dijaga ruh-nya oleh kita semua. Mempertimbangkan potensi bencana yang memiliki siklus tertentu, alangkah bijaknya apabila konsep rumah tradisional diterapkan dalam pembangunan hunian terkini. Material bangunan bisa digunakan secara arif dan bertanggung jawab. Harapannya, masyarakat yang memahami keutamaan nilai hunian berkarakter mitigasi menjadi  fenomena yang membumi.

Ditulis oleh Awaluddin Azril

150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing