Pengetahuan Lokal Masyarakat Kaili Untuk Mitigasi Bencana

Peta Tua Palu - Petobo Sumber: Kompasiana.com

Beberapa ahli berpendapat bahwa bencana memiliki siklus yang berulang, seperti halnya tsunami di Palu 2018 lalu sebenarnya bukan kejadian tsunami yang pertama.

Melihat catatan gempa dan tsunami yang pernah terjadi di Palu dan sekitarnya, setidaknya telah ada 9 peristiwa gempa bumi yang memicu terjadinya tsunami yaitu pada tahun 1927, 1930, 1938, 1994, 1996, 2005, 2008, 2012, dan 2018.

Trinirmalaningrum menyatakan bahwa masyarakat Kaili-Palu banyak selamat dari bencana tsunami pada tahun 2018 silam (Rahmawati, Fitria, dkk, 2018). Menurutnya masyarakat Kaili memiliki pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Salah satunya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Kaili adalah di mana ketika mereka memilih mendirikan rumah kayu di dataran-dataran tinggi atau di lembah-lembah perbukitan. Tidak ada bagian dari mereka yang mendirikan rumah di pinggir pantai.

Kebiasaan masyarakat Kaili ini dilakukan bukan tanpa sebab, melainkan karena adanya beberapa petunjuk yang diwariskan kepada mereka oleh leluhurnya melalui lisan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penamaan berdasarkan sebab bencana di sana. Masyarakat Kaili memberi nama-nama tempat sesuai dengan potensi bencana yang ada di daerah tersebut.

Pengetahuan lokal masyarakat Kaili ini sama dengan Toponimi, yaitu bidang ilmu dalam linguistik yang membahas asal usul penamaan suatu wilayah atau tempat.

Berbagai latar belakang fenomena geografis baik dari segi aspek fisik maupun sosial yang ada atau pernah ada di wilayah-wilayah Kota Palu mempengaruhi penamaan kelurahan atau toponimi di Kota Palu umumnya seperti contoh di bawah ini :

DESA

ASAL KATA

ARTI KATA

KETERANGAN

Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi

Vatu Motoe

Batu yang pecah dan mengeluarkan air atau tanah yang terbelah

Di desa Beka juga terdapat mata air yang biasa disebut ranjuri yang diambil dari nama pohon besar yang hidup di hutan.

Kelurahan Watutela Kecamatan Mantikulore Kota Palu

Vatu Tela

Batu yang menimbulkan percikan api/batu karang/batu kaca

Penyebutan tempa antara Vatu Banggai (Batu Kaca) Balu mata (Kubur Depan Mata). Lokasi tersebut berada di atas gunung yang ada di kelurahan Watutela, karena dibeberapa lokasi gunung tersebut terdapat Vatu Gusu (Batu Karang)

Desa Langaleso Kecamatan Dolo/Sigi

Langa

Pemukiman masyarakat dan daratan yang tinggi serta layu

Pada desa tersebut terdapat mata air diantaranya Uve Paneki (aliran sungai dari paneki) dan Uve Levu (mata air yang keluar langsung dari dalam tanah)

Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala

Taijo, Terenjes

Banyak air

Berdasarkan dialek Kaili Rai artinya di limas, tumpah atau dibersihkan. Di Kecamatan Sirenja juga terdapat lokasi tanah yang berlumpur yang biasa disebut Lome.

Desa Amal Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala

Ape dan Maliko

Bukit meliuk yang ditumbuhi rotan

Dusun IV desa Amal disebut juga Gonjo atau lumpur yang pada kejadian gempa, tsunami dan likuifaksi 28 Oktober 2018 lalu.

Sumber: Rahman & Nazaruddin (2021)

Penamaan wilayah pada tabel diatas masih digunakan sampai saat ini. Namun ada juga wilayah yang mengalami perubahan contohnya daerah yang saat ini bernama Balaroa bermakna kampung yang ramai. Sebelumnya Balaroa bernama Pusentasi yang artinya pusat laut atau lubang yang dipenuhi air dan merupakan jalur air bawah tanah yang terhubung dengan laut, masyarakat Kaili pada saat itu tidak ada yang mau tinggal di daerah tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tidak berlanjut pada generasi sekarang, lokasi-lokasi yang seharusnya tidak dijadikan pemukiman, justru dijadikan pemukiman sejak tahun 1980-an.

Wilayah-wilayah pinggir pantai Palu yang terkena gelombang tsunami, dulunya merupakan daerah yang ditumbuhi oleh tumbuhan bakau. Pohon bakau berguna untuk menahan gelombang air laut yang tinggi, namun saat ini pohon bakau tersebut tidak ada lagi.

Pada dasarnya peringatan lisan para leluhur mengenai potensi bencana di kota Palu sudah terekam dengan baik, seperti penamaan Kota Palu itu sendiri. Palu berasal dari kata topalu’e yang artinya tanah terangkat. Diyakini dahulu, Palu awalnya berupa lautan, namun ketika terjadi gempa dan pergeseran lempeng (Palu Koro), daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang dikenal dengan Kota Palu.

Sayangnya pengetahuan lokal ini hanya berupa cerita lisan yang hanya ada dalam ingatan namun tidak pernah dituliskan. Padahal sejatinya pengetahuan lokal ini terbukti dapat menyelamatkan jiwa bagi masyarakat Kaili.

Berbagai pengetahuan para leluhur melalui penamaan tempat, idealnya memberikan pengetahuan kepada kita, untuk tidak menempati daerah yang pernah dilanda bencana pada masa lalu.

Toponimi menjadi penting untuk diketahui dan diwariskan kepada generasi penerus. Toponimi juga dapat dihubungkan dengan upaya pengurangan risiko bencana. Pemerintah perlu mengidentifikasi pengalaman kegempaan berdasarkan pengetahuan toponimi yang ada. Kemudian memetakan wilayah-wilayah yang aman untuk dihuni dan tidak aman untuk dihuni dan memasukkannya ke dalam kebijakan tata ruang wilayah Kota Palu.

Sehingga diharapkan dengan kebijakan tata ruang wilayah yang disesuaikan dengan pengetahuan lokal masyarakat dapat membantu masyarakat untuk mengambil keputusan dalam menentukan lokasi yang aman untuk ditinggali.

Referensi:

Rahmawati, Fitria. “Kala Leluhur Bertutur Bencana”. Koran Tempo, 17 November 2018, https://koran.tempo.co/amp/topik/437312/kala-leluhur-bertutur-bencana.

Lawide, Iin Ainar. “Toponimi, Warisan Pengetahuan Lokal Masyarakat Kaili”. Kompasiana, 13 Juli 2021, https://www.kompasiana.com/iinainarlawide8915/60ec809306310e1f88311362/toponimi-warisan-pengetahuan-lokal-masyarakat-kaili?page=2&page_images=3

Rahman, A., & Nazaruddin, M. (Eds.). (2021). Book Series Manajemen Bencana Volume 1: Pengetahuan dan Praktik Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana: Konsep dan Aplikasi. Syiah Kuala University Press.

Ditulis oleh Muhammad Arifin

150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing