Sains Manusia dan Literasi Masa Depan: Meneropong Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana 2045

Sepanjang tahun 2021 (Juni-Desember 2021), UNESCO – UNDP Indonesia – UNDRR, dan U-INSPIRE Alliance bekerja sama melaksanakan rangkaian kegiatan terkait Futures Thinking on Disaster Risk Reduction and Resilience. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari dua kali webinar, tiga kali Future Literacy Laboratory for Disaster Risk Reduction (FLL DRR), dan tiga kali Let’s Talk DRR. Webinar pertama dengan judul “Reflection on the Past and Present for Futures Thinking on Disaster Risk Reduction”, dilaksanakan pada hari Jumat, 25 Juni 2021 Pukul 13:00 – 15:30 WIB. Keseruan refleksi pemikiran para pakar selama webinar pertama ini boleh disimak di sini

Sedangkan FLL DRR pertama (FLL DRR #1) dilaksanakan pada tanggal 14-16 Juli 2021 pukul 14:00-17:00 WIB. Tema yang diangkat untuk FLL DRR #1 adalah The Future of Disaster Risk Governance atau Masa Depan Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana (PRB).  Kegiatan ini melibatkan 12 negara di Asia Pasifik, melalui 42 peserta dengan ragam latar belakang pekerjaan seperti dari sektor pemerintahan, lembaga internasional, LSM, universitas, entrepreneur, dan praktisi. Dinamika interaksi lintas disiplin ilmu dan latar belakang di laboratorium FLL DRR #1 ini dapat disimak di tautan ini.

Setiap selesai melaksanakan FLL DRR, kegiatan selanjutnya adalah Let’s Talk DRR. Let’s Talk DRR adalah ajang mengekstraksi pengalaman yang dirasakan peserta selamat ikut FLL DRR. Pengalaman tersebut kemudian dibahas dan ditanggapi oleh beberapa penanggap dengan latar belakang sebagai praktisi Futures Thinking atau terkait PRB. 

Berbagai kesan keterlibatan dan pengalaman menjajal laboratorium FLL DRR #1, akan diceritakan melalui empat sudut pandang pemuda / profesional muda Indonesia. Empat orang yang bersedia berbagi dengan pembaca Nawala selama mengikuti FLL DRR #1 yaitu, Tinitis Rinowati (peserta, Jakarta), Sukma Impian Riverningtyas (peserta, Palu), Halda Aditya Belgaman (peserta, Jakarta), dan Rochmy Akbar (observer, Jakarta).

Berikut cerita mereka:

Tinitis Rinowati; seusai FLL-DRR #1, sebuah hal berkesan dan menetap di ingatan adalah soal ada sekelompok orang, yang secara serius mengurusi soal sains manusia. Termasuk soal bagaimana manusia di seluruh dunia – lintas ras, organisasi, negara, dan warna lainnya – saling berinteraksi. Sebagian orang dari kelompok ini bergerak pada bidang Futures Literacy  (FL) atau Literasi Masa Depan. Mereka bekerja dari suatu diskursus, ke diskursus lain, dan meletakkan perenungan reflektif sebagai hal yang penting dan wajib dilakukan pada jeda-jeda dinamika itu. Mari kita bayangkan suatu pekerjaan, yang mewajibkan merenung sebagai proses bisnisnya. Terasa sedikit janggal, tidak?

Bila ada waktu luang, boleh kalian simak isi pikiran seorang guru bernama Dr. Riel Miller melalui kanal Youtube atau kuliah lainnya di kanal berbeda. Salah satunya, dapat dilihat di sini, atau dalam bentuk publikasi ilmiah yang dapat dismak di sini.

Literasi Masa Depan seperti sebuah gangguan kecil yang pada hari-hari biasa hanya kita lamunkan selepas lalu. Atau pada hari-hari lainnya begitu kita cemaskan. Yaitu tentang merencanakan, membuat, atau membangun masa depan. Dalam laboratorium yang didominasi oleh aktivitas diskusi kemarin, topiknya dikhususkan pada tata kelola PRB. 

Kita diajak ke tahun 2045 dan menceritakan apa saja yang kita lihat di sana. Kita juga diajak memakai beberapa jenis lensa, lensa masa depan yang menurut kita mungkin terjadi (probable futures), lensa masa depan yang diinginkan (desirable futures), serta merangkai kedua imajinasi itu melalui jembatan pemahaman yang baru (reframing process). Kita tidak ditawarkan harapan, kita juga tidak dijanjikan perubahan, seperti yang biasa dibawa-bawa politisi kalau bicara tentang 2045. Di sana juga tidak ada penghakiman bahwa masa tersebut harus cemerlang, sehingga kita tidak digelayuti beban. Atau ada suatu situasi buruk yang perlu dihindari, sehingga kita tidak perlu terlalu merasa was-was atau malah ketakutan. 

Kita kesana dengan kesadaran, kemampuan, visi, sekaligus kelemahan diri. 

Soal bencana kan, urusan semua orang, jadi perlulah kita mengakui kelemahan kita, agar sadar pula bahwa yang lain dengan kelebihannya bisa sanggup melengkapi. Soal bencana juga tentang keterlibatan, bahwa TIAP orang pasti bisa ambil peran.

Soal Literasi Masa Depan, ringkasnya seperti lensa yang bisa dipakai dan dibawa-bawa ke manapun. Kita jadi bisa selalu bisa memiliki alternatif sudut pandang dan membuka sekian banyak dimensi kemungkinan dengan menggunakan alat bernama: masa depan. Jendela kita bertambah pemandangannya bila menambahkan lensa itu. Cakrawala pandang kita merentang, meluas. 

Untuk perjalanan ke dalam, khususnya ketika kita diajak memasuki jembatan pemahaman baru (reframing process) kita juga bisa memaknai semesta dalam diri secara kreatif, kuat, dalam, dan seolah memiliki energi yang bisa mempengaruhi semesta yang lain. Hal ini merupakan artikulasi personal saya soal konsep murmuration yang juga mereka jadikan tantangan pemikiran dalam diskusi pada lensa reframing process. Secara pribadi, saya juga merasa menjadi lebih lumer dalam menyikapi dikotomi, karena bisa jadi kita tak perlu berada pada satu kubu dan memenangi kubu yang lain. Sebab tidak mustahil kita bisa mengambil jeda menjadi sesuatu yang cair, luruh, tidak mewujud serupa yang lalu, sebelum bermetamorfosis menjadi bentuk yang lain.

Ketika pulang ke saat ini, tahun 2021, Literasi Masa Depan menjadi suatu pendobrak dimensi waktu dan pemicu diri untuk jadi satu gerak kecil pembangun masyarakat tangguh. Tangguh pada masa kini, terus ter- literasi baik, dan makin tangguh di depan nanti. 

Mengapa masyarakat tangguh? Sebab, satu pribadi tak mungkin selalu berdaya. Ada masa kita merasa kuat dan bersinar, tapi kala yang lain kita merasa pasrah dan melepas kendali. Sebab yang lain, sekali lagi, soal bencana dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhinya, tidak pernah merupakan urusan pribadi. Bencana adalah urusan bersama. 

Kembali ke sains manusia. Saya tersentak dengan kekuatan imajinasi, diskusi, dan refleksi pada pengalaman laboratorium tempo lalu yang berani dan lugas merancang masa depan versi kita bersama. Soal kita sebagai manusia, mari kita sejenak bersyukur sekaligus berbangga atas anugerah Tuhan Maha Kreatif yang melengkapi kita dengan kerumitan yang indah.

Lain cerita dari Sukma Impian Riverningtyas; di FLL DRR #1 tentang Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana, saya memiliki pengalaman membayangkan masa depan apa yang mungkin terjadi dan masa depan seperti apa yang saya inginkan. Saya melakukan eksplorasi terhadap faktor dan asumsi yang mendasari imajinasi saya tentang masa depan, dan merasa kagum dengan imajinasi orang lain. Saya menjadi lebih sadar bahwa imajinasi tidak seharusnya dibatasi oleh pengetahuan atau asumsi saya saat ini. Saya juga kagum dengan rekan-rekan profesional muda di lab ini yang begitu kreatif dan ambisius, sehingga meskipun kita tahu apa hambatan yang ada saat ini dan masa lampau, kita tidak putus asa untuk mencari cara mencapai tata kelola PRB yang baik. Yang paling berkesan dari FLL DRR #1 ini adalah prinsip tidak meninggalkan siapa pun yang selalu terintegrasi dalam percakapan kami di lab,  menyadarkan saya akan pentingnya inklusivitas.

Selanjutnya, Halda Aditya Belgaman bercerita; mengikuti kegiatan FLL DRR #1 memberikan sebuah pengalaman baru. FLL merupakan sebuah skill di dalam sistem berpikir. Dengan FLL kita dibawa ke dalam sebuah ruang berpikir bebas mengenai masa depan yang akan terjadi, tanpa dibatasi asumsi apapun. Dengan demikian, kita “dipaksa” untuk membentuk masa depan yang ingin kita capai, dalam hal ini masa depan tentang tata kelola PRB

Setelah masa depan kita bentuk, kita kemudian harus berpikir kembali, langkah-langkah antisipasi apa yang mungkin kita lakukan agar segala hal yang kita inginkan di masa depan tersebut dapat dicapai. Berikut dengan pertimbangan asumsi-asumsi lain yang ada. Pemikiran setiap orang berbeda, tergantung persepsi dan pengetahuan seseorang. Dalam FLL DRR #1, hal ini akan sangat bermanfaat, karena masa depan yang dibayangkan akan terbentuk dari berbagai macam pandangan dan pemikiran. 

Sebagai peserta yang pertama kali merasakan laboratorium ini, pada awalnya kegiatan ini sulit diikuti, karena kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah masa depan yang kita bayangkan itu benar-benar bebas, atau perlu kita kaitkan dengan perkembangan teknologi terkait tata kelola PRB misalnya. Ada beberapa waktu ketika para peserta membayangkan masa depan sama sekali tidak terkait dengan proses tata kelola PRB, hal ini sedikit memengaruhi peserta lain “lost” dalam topik yang sebenarnya ingin digali. Seperti yang saya yang sebetulnya belum terlalu mengetahui secara dalam tata kelola PRB, saya berharap dapat mendapatkan pengetahuan terkait “best practice” tata kelola PRB dari peserta lain yang berasal dari berbagai negara. Karena tata kelola PRB tentunya melibatkan masyarakat dan pemerintahan yang tentunya berbeda-beda dari tiap wilayah. Dengan waktu yang terbatas, tentunya hal yang ideal belum dapat tercapai, tetapi secara umum kegiatan FLL DRR #1 mampu menambah perspektif, dan pengetahuan baru terkait tata kelola PRB yang seharusnya dilaksanakan di saat ini, untuk mencapai kondisi ideal di masa yang akan datang. 

Setelah mendapat insight dari kegiatan FLL DRR #1, kedepannya saya berharap dapat lebih memahami / mendengarkan society terkait tata kelola PRB ini secara lebih detail. Dengan cara ini, saya berharap mampu membuat sebuah langkah nyata yang bermanfaat dalam rangka mendukung upaya PRB di Indonesia.  

Rochmy Akbar; menerka masa depan adalah proses rekonsiliasi ketakutan dan harapan bagi semua orang. Hampir semua orang akan memastikan masa depan sesuai dengan kehendak mereka dan risiko yang minim (optimization). Namun ketidakterdugaan selalu menjadi keniscayaan dalam berbagai fenomena, sehingga masa depan tidak selalu sesuai dengan harapan dan skenario yang diinginkan. Salah satu kendali yang bisa dilakukan, ialah dengan merancang skenario masa depan yang terbuka terhadap berbagai tantangan dan peluang yang belum terjadi. Daya pikir atau imajinasi untuk merancang skenario ini, layaknya belajar bahasa asing atau membentuk otot, adalah kemampuan yang dapat dilatih. 

Kegiatan FLL DRR #1 ini adalah salah satu arena latih untuk menguatkan kemampuan tersebut. Selama tiga hari berturut-turut, profesional muda berpartisipasi dalam merencanakan masa depan tata kelola PRB melalui proses intelektual kolektif. Selain memetakan informasi, peserta juga diantarkan pada kondisi yang memerlukan sensitivitas lebih untuk membaca bias masa kini dan pola-pola dari masa lampau yang dipaksakan pada konstruksi skenario masa depan. Kedua elemen ini dapat mendominasi gambaran masa depan tata kelola PRB – baik gambaran yang distopia (negatif), utopia (positif) atau netral (seimbang). Hal yang diharapkan dari proses ini adalah mendorong inovasi dan gambaran masa depan yang tidak tunggal.

Terlepas dari tantangan intensitas dampak krisis iklim, semua peserta dalam pelatihan ini menggarisbawahi empat hal penting sebagai peluang dalam menghadapi ketidakpastian di masa yang akan datang. Peluang tersebut yakni kolaborasi antar pihak, masyarakat yang inklusif, pemanfaat teknologi yang baik, serta pemerintahan yang kredibel dan adaptif.

Kegiatan ini juga tidak memaksakan imajinasi masa depan peserta, tetapi mengarahkan dan mengelola imajinasi peserta dengan terstruktur melalui alat bantu yang tersedia seperti segitiga masa depan (future triangles) dan proses reframing. Hal yang wajar kita temui adalah peserta berkontemplasi dengan kompleksitas masa depan dengan berbagai peluang dan tantangan yang belum tentu terjadi. Melalui pelatihan ini, masa depan tidak lagi tergambar dalam wujud hutan belantara yang absurd. Namun menjadi kegiatan dan gambaran yang menyenangkan tanpa membatasi imajinasi itu sendiri.

***

Melalui empat buah pikir dan renungan singkat dialektika kolektif  FLL DRR #1, mari kita kembali ke perihal sains manusia yang menjadi hal yang begitu berkesan bagi peserta Tinitis Rinowati. Sains manusia pastilah menjadi subjek yang menarik dengan segala dimensi, karakter, dan kekuatan unik yang bernama imajinasi. Bagi yang tertarik terlibat kegiatan Futures Thinking on Disaster Risk Reduction and Resilience selanjutnya, silakan mengikuti berita terbaru melalui kanal media sosial U-INSPIRE Indonesia atau U-INSPIRE Alliance. 

Mari kita rayakan eksistensi kita sebagai manusia, dengan membangun masa depan terbaik yang mampu kita bayangkan. 

Ditulis oleh Tinitis Rinowati

150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing