Sky Volunteer dan Penggunaan Drone dalam Kebencanaan di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki resiko bencana yang tinggi di dunia menurut UNDRR, berdasarkan jumlah orang yang terancam akibat bencana alam. Kerentanan Indonesia terhadap bencana dapat diminimalisir melalui upaya Penanggulangan Risiko Bencana (PRB) yang dilakukan di berbagai tahapan dan terintegrasi oleh berbagai institusi. Dalam melaksanakan PRB, data terkait pengurangan risiko diperlukan sebagai bahan pengambilan keputusan dan kebijakan.

Dalam pengolahan data, para ahli dan praktisi di bidang PRB memiliki berbagai alat dan metode yang dapat digunakan. Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone merupakan salah satu teknologi yang dapat memudahkan pendataan dampak bencana. Drone merupakan pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan komputer atau remote control

Sky Volunteer merupakan komunitas yang memiliki misi untuk melakukan pemetaan potensi risiko bencana sebagai bagian dari PRB menggunakan UAV atau drone. Sky Volunteer diinisiasi pada tahun 2016 dan telah menerbangkan drone di berbagai kejadian bencana.

2018 : Sky Volunteer’s First Flight 

Penerbangan pertama Sky Volunteer (Agustus 2018). Aerial Damage Assessment di Gempa Bumi Lombok menggunakan Fixed Wing UAV - Photo by Hilman Arioaji

Sky Volunteer bekerjasama dengan Aero Geo Survey mengudara pertama kalinya untuk melakukan Aerial Mapping tanggap darurat gempa bumi di Lombok pada Agustus 2018. Sky Volunteer menggunakan drone untuk berbagai keperluan dalam manajemen risiko bencana, di antaranya membantu dalam pencarian dan  penyelamatan korban,; melakukan kajian dampak bencana lebih cepat meningkatkan keselamatan, dan mengumpulkan arsip bencana secara audiovisual.

Pada tahun yang sama bulan berikutnya, bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi melanda Palu, Sigi, dan Donggala. Namun, Sky Volunteer tidak dapat melaksanakan pengambilan data dikarenakan kekurangan dana. Pendanaan menjadi salah satu tantangan yang hadir dalam pengembangan Sky Volunteer dan penggunaan drone dalam PRB. 

Menurut (alm.) Sutopo, pemanfaat drone yang maksimal dalam PRB dapat menghemat biaya karena pemetaan tak perlu lagi dilakukan menggunakan helikopter, yang memerlukan biaya besar, atau citra satelit, yang membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih banyak. 

2019 – 2020: Standard Operational Procedure (SOP) yang  Belum Siap

Tanggap Darurat Gempa Bumi Halmahera, Juli 2019

Pada Juli 2019, Sky Volunteer terlibat dalam penanganan bencana gempa di Halmahera. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta Sky Volunteer untuk melakukan pemetaan wilayah terdampak bencana gempa di Halmahera. Namun, Sky Volunteer dan BNPB menemukan hambatan yang berakibat keterlambatan dalam penugasan ke Halmahera, yakni belum adanya SOP yang jelas tentang proses penugasan tim UAV saat bencana. Sky Volunteer dapat menerbangkan drone pertama mereka di Halmahera 7 hari pasca-bencana.

Pemetaan Udara Longsor Kabupaten Bogor, Januari 2020

Hambatan untuk mengudara akibat permasalahan SOP juga dialami oleh Sky Volunteer saat akan melakukan pemetaan udara untuk area terdampak bencana longsor di Kabupaten Bogor pada Januari 2020. Selain itu, drone juga tidak memiliki jam terbang yang maksimal saat pemetaan karena harus berbagi ruang udara dengan helikopter. 

Pengambilan data dan informasi berupa citra udara yang dilakukan segera pasca-bencana akan membantu pengambilan kebijakan yang lebih tepat dan efektif. Drone dapat menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh manusia secara cepat sehingga dapat memetakan daerah terdampak, akses yang dapat dilalui, dan masyarakat terdampak yang terperangkap.

2021: Pemetaan Drone Lebih Akurat 

Aerial Damage Assessment di Longsor Sumedang (January 2021)

Sky Volunteer juga bergabung pada tanggap darurat bencana longsor di Sumedang. Pencitraan drone oleh Sky Volunteer mampu memetakan 24 rumah terdampak yang mana sebelumnya BPBD memperkirakan hanya 6 rumah yang terdampak. Selain itu, Sky Volunteer juga mendukung BPBD Kabupaten Sumedang dalam memetakan wilayah rentan longsor susulan menjadi zona merah, zona kuning, dan zona hijau. 

Pada Aerial Damage Assessment Tanggap Darurat Tanah Longsor di Sumedang, Sky Volunteer menggunakan drone multirotor yang  mampu takeoff dan landing secara vertikal sehingga lebih cocok digunakan pada kondisi lahan yang terbatas. Meskipun daya jangkau multirotor lebih kecil daripada fixed wing UAV, tapi untuk bencana longsor dengan dampak yang tidak terlalu luas, drone jenis ini lebih efektif dan efisien.

Hasil Aerial Damage Assessment, Sumedang

2021: Mengudara  Lebih Jauh

Pada tahun 2021, Sky Volunteer ikut merespon dan pemetaan risiko bencana di Indonesia di antaranya gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di  Kalimantan Selatan 2021, dan Topan Seroja di Nusa Tenggara Timur pada bulan April. Sky Volunteer terus berusaha meningkatkan dan menyebarkan pemahaman penggunaan drone atau UAV dalam manajemen risiko bencana di Indonesia. Penyempurnaan prosedur standar, diseminasi hasil pencitraan, dan kolaborasi dengan berbagai institusi menjadi usaha lainnya yang dilakukan oleh Sky Volunteer selain mengudara di daerah terdampak atau rentan bencana. 

Tidak hanya melakukan pemetaan, Sky Volunteer saat ini juga berusaha untuk selalu meningkatkan kapasitas anggotanya. Selain digunakan untuk aerial damage assessment, drone juga digunakan dalam search and rescue, pengiriman logistik khusus , firefighting, dan pengumpulan arsip kebencanaan secara audiovisual.

Flight Plan pengambilan data di Bendung Kambaniru setelah banjir bandang Nusa Tenggara Timur - Aerial Damage Assessment untuk tanggap darurat Topan Seroja (April 2021)
Bendungan Kambaniru setelah banjir bandang Nusa Tengga Timur - aerial damage assessment untuk tanggap darurat Topan Seroja (April 2021)

 Risk Aerial Mapping for Tsunami Ready Initiative di Lebak Selatan , June 2021

karya kolaborasi dari Andi Atissa Putri Chaniago, Basitha Septia Wibowo, dan Septian Firmansyah.

150 150 admin

Leave a Reply

Start Typing