Mbah Cumi, Macgyver dari Prigi

Ditulis oleh Tinitis Rinowati
Pemenang Menulis – kelas komunikasi sains #2

Nelayan kurus berkulit legam itulah perekayasa panel surya untuk kebutuhan melaut dan antena pemancar radio komunikasi di antero Pantai Prigi. Antena rakitan itu ia buat dari bahan murah -kalau bukan bekas-, namun mampu menjangkau stasiun radio di Malang yang berjarak sekitar 145 km. Ketekunan itu membuatnya menjadi bintang di antara para nelayan Prigi, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur.

Matanya berbinar saat ia bercerita bagaimana ia berani mengadu barang temuannya itu dengan spesifikasi sejenis yang beredar di pasaran. Senyum bangganya mengiringi keyakinannya akan kemampuan mentrasfer teknologi bikinannya itu dengan cara simpel dan dapat dilakukan siapapun. Dengan penyampaian melalui cerita sederhana, mudah dimengerti, dan sesuai karakter penerima informasi katanya, “cah kelas 4 SD yo mesti iso nyolder” (antena sejenis).

Soal pentingnya radio di tengah komunitas nelayan, beliau mengambil kasus kedaruratan yang seringkali terjadi di tengah lautan.

“Contoh sederhana, ketika ada yang tenggelam. Saya lapor sana-sini belum tentu diterima dengan cepat. Tapi begitu saya kontek brik-brikan (radio komunikasi), otomatis kabupaten akan mendengar. Mereka akan nelfon (mengabarkan bahwa mereka) langsung siap.”

Tidaklah berlebihan bila predikat Macgyver dilekatkan padanya. Ia yang mengasah kemampuannya secara otodidak itu seperti memiliki dunia sendiri pada sengkarut kabel dan barang elektronik bekas di ‘laboratorium’ rumahnya. Di samping piawai nyolder, kepekaannya akan tanda-tanda alam juga membuat mata beliau tajam soal bahaya di pantai tempatnya mencari penghidupan. Termasuk di antaranya soal pemasangan rambu evakuasi.

“Lihat itu, tiap teluk minimal ada 2 sungai, air yang datang (tsunami) bisa mendahului lewat alur sungai. Karena tidak ada hambatan, akan menyerang dari sana. Air akan lebih tinggi dari titik terendah dataran, dalam 10 menit saya harus bisa mencapai tinggi 50 m. Lha rambu yang dipasang itu malah (mengarah) ke jalan raya, bukan ke titik tertinggi.”

Mbah Cumi bercerita di hadapan para relawan Ekspedisi Destana Tsunami BNPB 2019

Apa daya ia yang hanya nelayan itu mampu melantangkan gagasannya kepada mereka para pemangku wewenang pemasangan plang. Namun keyakinannya akan risiko yang harus ditantang bila turut petunjuk yang menurutnya menyesatkan itu, ia menyusun strategi berdasar pertimbangan nalurinya.

Alih-alih mengikuti rambu yang mengarah ke jalan raya, ia dengan yakin menyatakan bahwa ia dan keluarganya sudah memiliki rencana bila situasi darurat itu datang. Mereka berencana langsung mendaki bukit di barat rumah mereka bila ada tanda tsunami segera menghantam. Sederhananya ia bilang, “jangan tunggu atau lewat jalan bagus, yang penting kan, lari ke tempat tinggi secepatnya!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.